Buntut Dari Pelanggaran HAM di Uyghur, AS Larang Bisnis dengan Xinjiang – Penguasa Amerika Serikat kelihatannya bertambah gusar memandang terus menjadi banyaknya pengungkapan informasi mengenai pelanggaran HAM berbentuk kegiatan menuntut, penganiayaan, serta pelecehan intim kepada etnik Uyghur di Provinsi Xinjiang, Tiongkok. Itu penyebabnya, Bangunan Putih sudah mencegah keras perusahaan- perusahaan AS berbisnis apa juga yang terpaut dengan Xinjiang.

Buntut Dari Pelanggaran HAM di Uyghur, AS Larang Bisnis dengan Xinjiang

 Baca Juga : AS Diharapkan Indonesia Perkuat Kerjasama Multilateral

naptp – Perusahaan- perusahaan Amerika yang sedang mempunyai rantai pasokan serta investasi di Xinjiang diancam dengan hukum AS.

“ Bidang usaha serta orang yang tidak angkat kaki dari kaitan cadangan, upaya, serta/ ataupun pemodalan yang tersambung ke Xinjiang, bisa beresiko besar melanggar hukum AS,” demikan isi peringatan yang diperbarui.

Peringatan bidang usaha terpaut Xinjiang sendiri awal kali diluncurkan pada Juli 2020 oleh Unit Luar Negara, Finansial, Perdagangan, Keamanan Dalam Negara, Daya Kegiatan serta Kantor Perwakilan Dagang AS.

Washington mengklaim sudah menemukan fakta kokoh mengenai genosida serta pelanggaran hak asas orang yang lain di Xinjiang. Dalam suatu statment pers, Menteri Luar Negara Antony Blinken berkata akta itu menulis kalau penguasa Tiongkok melaksanakan genosida serta kesalahan kepada manusiawi di Xinjiang.

Akhir minggu kemudian, rezim Biden meningkatkan 14 industri Tiongkok serta entitas bidang usaha lain ke catatan gelap ekonominya. Tetapi, Unit Finansial menyangkal menanggapi informasi Financial Times kalau AS hendak menjatuhkan lebih banyak ganjaran minggu ini selaku asumsi atas aksi keras Tiongkok di Xinjiang serta Hong Kong.

Pangkal yang mengenali permasalahan itu berkata pada Reuters kalau mereka mengikuti penguasa lagi menyiapkan ganjaran terkini, namun tidak mempunyai rincian mengenai waktunya. Dikutip Today Online, pangkal lain berkata kalau bersumber pada situasi yang memburuk di situ, penguasa bisa memublikasikan peringatan bidang usaha seragam yang melingkupi Hong Kong lekas sehabis Jumat.

Zara, Unilqlo, SMCP, dan Skechers

Tidak cuma AS yang tingkatkan titik berat ke Tiongkok sebab pelanggaran HAM di Xinjiang ini. Dini Juli, daulat Prancis telah membuka pelacakan kesalahan manusiawi kepada 4 merk terkenal Zara, Unilqlo, SMCP, serta Skechers. European Uyghur Institute mendakwa keempat raksasa retail itu sudah memetik profit dari kegiatan menuntut serta penganiayaan kepada golongan orang islam Uyghur di Xinjiang.

Xinjiang menciptakan 85 persen kapas Tiongkok serta beramal dekat seperlima dari cadangan garis besar. Di Xinjiang, etnik Uyghur diprediksi kokoh sudah ditahan di kamp- kamp di mana dakwaan penganiayaan, kegiatan menuntut serta pelecehan intim timbul.

Tetapi, Uniqlo, Zara, serta industri garmen Prancis SMCP menyangkal klaim European Uyghur Institute itu. Sedangkan Skechers menyangkal berpendapat serupa sekali.

Kepala negara Turki Tayyip Erdogan apalagi sudah menelepon langsung Kepala negara Tiongkok Xi Jinping, spesial buat mangulas Uyghur. Diambil Supchina, Erdogan berkata kalau berarti untuk Turki buat membenarkan etnik orang islam Uyghur hidup dalam rukun selaku masyarakat negeri yang sebanding dengan masyarakat Tiongkok yang lain. Walaupun begitu, Erdogan menjamin kalau Turki senantiasa meluhurkan independensi nasional Tiongkok.

Di Jenewa, ahli HAM Perserikatan Bangsa Bangsa turut melantamkan industri garis besar buat mempelajari dengan teliti kaitan cadangan mereka. Karena, PBB sudah menyambut data yang beranggapan kokoh kalau lebih dari 150 industri dalam negeri Tiongkok serta asing melaksanakan pelanggaran HAM kepada pekerja Uyghur.

“ Pekerja Uyghur diprediksi dipekerjakan dengan cara menuntut di pabrik padat buatan dengan keahlian kecil, semacam agribisnis, garmen serta garmen, otomotif serta zona teknologi,” tutur Dante Pesce, Pimpinan Pokja PBB buat Bidang usaha serta HAM.

Perwakilan Bisnis AS( USTR) USTR Katherine Tai menyanjung tindakan Kanada, Meksiko, serta kawan kerja dan kawan AS yang lain sebab berkomitmen buat mencegah memasukkan benda yang terbuat dengan kegiatan menuntut.” Aku mau menyanjung kawan kita sebab mengirimkan tanda yang nyata, kalau tidak terdapat tempat buat kegiatan menuntut dalam sistem perdagangan global yang seimbang,” tuturnya dalam suatu statment.

Bantahan Cina

Mengalami dakwaan penganiayaan etnik Uyghur di Xinjiang ini, penguasa Tiongkok sudah berulang kali membantahnya. Mereka mengatakan barak penganiayaan yang dituduhkan merupakan alat pembelajaran, yang dipakai buat menyiapkan etnik Uyghur supaya dapat hidup lebih bagus.

Tiongkok juga mengingatkan industri buat tidak ikut serta dalam politik di Xinjiang. Penguasa Beijing mencegah H&M serta merk asing yang lain buat berjalan ke politik sehabis industri itu menyuarakan kesedihan mengenai kegiatan menuntut di Xinjiang, yang mengakibatkan respon keras serta boikot.

Maret kemudian, H&M, Nike, Burberry, Adidas serta merk Barat yang lain sudah diboikot pelanggan di Tiongkok sebab menanggapi pangkal kapas mereka di Xinjiang.“ Aku tidak berasumsi industri wajib mempolitisasi sikap ekonominya,” tutur Xu Guixiang, ahli ucapan penguasa Xinjiang, pada rapat pers yang dikabarkan Reuters.

Pemda Xinjiang pula menghasilkan statment kalau area itu sudah jadi player kunci dalam penciptaan polisilikon di Tiongkok serta dengan cara garis besar. Mereka menuduh perihal seperti itu yang membuat AS kebakaran brewok.

Tiongkok diperkirakan hendak memproduksi 567. 000 metrik ton polisilikon tahun ini, dekat 85 persen dari output garis besar. Dekat 57 persen polisilikon Tiongkok hendak dibuat di Xinjiang tahun ini, bagi Federasi Pabrik Metal Nonferrous Xinjiang.

“ Amerika mau memandang perusahaan- perusahaan itu kurangi ataupun mengakhiri penciptaan mereka. Kesimpulannya, AS mau memandang mereka pergi dari Xinjiang. Kenyataannya, polisilikon yang dibuat di Xinjiang terbuat tidak cuma buat pasar AS namun pula buat pasar garis besar, jadi kita tidak khawatir dengan perlakuan tidak seimbang ini,” tutur pemda Xinjiang dikutip ECNS.

Kantor Data Xinjiang kemarin mengeluarkan novel putih yang bertajuk” Meluhurkan serta Mencegah Hak Seluruh Golongan Etnik di Xinjiang.” Diambil Xinhua, novel putih itu menerangkan kalau Xinjiang ialah warga yang normal serta tertib, di mana golongan etnik lokal hidup dalam keseimbangan serta ketenangan bersama. Xinjiang sudah merambah rentang waktu pembangunan yang maksimal.

Klaim itu diamini guru besar di Cina Foreign Affairs University, Unit Kebijaksanaan, Fabio Massimo Parenti. Bagi ia, permasalahan Xinjiang amat lingkungan serta mengaitkan banyak aspek semacam asal usul serta etnik minoritas.

“ Barat serupa sekali tidak menguasai permasalahan Xinjiang. Mereka apalagi tidak paham asal usul serta suasana Xinjiang, yang pengaruhi evaluasi mereka kepada area Xinjiang serta apalagi Tiongkok. Lebih kurang baik lagi, rumor Xinjiang sudah dieksploitasi serta dibesar- besarkan dengan corak tersembunyi,” tutur Parenti.

Parenti apalagi berterus terang sudah melaksanakan serangkaian riset bersama koleganya hal Xinjiang. Hasilnya, informasi membuktikan gimana banyak orang di Xinjiang betul- betul hidup. Warga tidak cacat, serta banyak orang menempuh kehidupan dengan bagus.

“ Tidak terdapat keadaan kacau balau semacam dalam agitasi sebagian daya anti- Cina yang melanggar hukum, tercantum kultus bawah tangan Falun Gong. Malah kebalikannya, dalam sebagian tahun terakhir, ekonomi Xinjiang sudah bertumbuh cepat, serta standar hidup warga di situ sudah bertambah cepat. Kebanyakan orang Barat belum sempat ke Xinjiang,” tutur Parenti.